Skema Baru Pelayanan Haji 2026, Petugas yang Sudah Pernah Berhaji Langsung Disiagakan di Mina
Skema Baru Pelayanan Haji 2026, Petugas yang Sudah Pernah Berhaji Langsung Disiagakan di Mina
Haji 2026

Skema Baru Pelayanan Haji 2026, Petugas yang Sudah Pernah Berhaji Langsung Disiagakan di Mina

Jakarta - Kepala Satuan Operasional (Kasatop) Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) 2025, Harun Al Rasyid, mengungkapkan, Kementerian Haji dan Umrah menyiapkan skema baru dalam pelaksanaan ibadah haji 1447 H/2026 M.

Demi memaksimalkan pelayanan di puncak haji, dalam skema baru tersebut, petugas yang sudah pernah haji akan langsung ditempatkan di Mina. Harun menyebutkan, langkah ini merupakan bagian dari strategi penguatan layanan di kawasan Armuzna, khususnya Mina yang menjadi titik krusial pergerakan jemaah.

“Rencana tahun ini, petugas baik dari unsur perlindungan jemaah (linjam) maupun layanan lainnya yang sudah berhaji akan langsung kita tempatkan dari pemondokan di Makkah menuju Mina,” ujar Harun dilansir dari laman resmi Kementerian Haji dan Umrah, Kamis (22/1/2026).

Penempatan tersebut dilakukan seiring dengan pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah. Dengan demikian, petugas telah lebih dulu bersiaga di Mina untuk menyambut dan memantau arus jemaah saat bergerak dari Arafah ke Muzdalifah hingga ke Mina.

Menurut Harun, langkah ini akan membuat pemantauan dan bantuan kepada jemaah jauh lebih efektif. “Sehingga pos-pos yang menjadi tanggung jawab petugas PPIH bisa maksimal dalam melakukan pemantauan, peninjauan, dan memberikan bantuan yang dibutuhkan jemaah,” jelasnya.

Pada pelaksanaan haji tahun ini, petugas PPIH akan mengisi 10 pos layanan di Mina serta 10 pos di jalur yang dilalui jemaah. Selain itu, petugas linjam dan petugas lainnya juga akan disiagakan pada Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat, khususnya di lantai atas dan lantai 3 yang terdiri dari 5 pos.

“Jarak antara tenda Mina dengan pos di Jamarat cukup jauh. Karena itu, petugas sudah kita tempatkan langsung di lokasi agar saat jemaah tiba, petugas sudah siap dan tenaga mereka tidak terkuras,” jelasnya.

Ia menegaskan, pada malam pertama jemaah bergerak dari Muzdalifah menuju Mina lalu menuju Jamarat, potensi kepadatan dan kelelahan sangat tinggi. Kondisi tersebut memungkinkan jemaah membutuhkan pertolongan dengan cepat.

“Di situlah kita anggap lebih efektif jika petugas yang sudah berhaji ditempatkan langsung di pos-pos tersebut,” ujarnya.

Kebijakan ini, lanjut Harun, merupakan hasil evaluasi dari penyelenggaraan haji tahun-tahun sebelumnya. Meski secara umum pelaksanaan sudah berjalan baik, Kementerian Haji dan Umrah terus melakukan penyempurnaan.

“Yang kemarin dirasa belum efektif, tahun ini kita efektifkan lagi, baik dari segi penempatan maupun penguatan personel di lapangan,” tandasnya.***

40 Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di Arab Saudi, Ini Call Center yang Bisa Dihubungi Keluarga
40 Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di Arab Saudi, Ini Call Center yang Bisa Dihubungi Keluarga
Haji 2026

40 Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di Arab Saudi, Ini Call Center yang Bisa Dihubungi Keluarga

Jeddah, Arab Saudi - Meski seluruh kloter jemaah haji telah diterbangkan pulang ke tanah air, dengan penerbangan kloter terakhir pada 11 Juli 2025 kemarin, namun masih ada sejumlah jemaah haji yang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Arab Saudi.

Konsul Haji pada Kantor Urusan Haji (KUH) KJRI di Jeddah, Nasrullah Jasam mengatakan, saat ini masih ada 40 jemaah haji Indonesia yang menjalani perawatan di Arab Saudi. Ia memastikan proses pendampingan kepada jemaah haji yang menjalani perawatan terus dilakukan.

“Tahun ini, pasca operasional haji, ada 40 jemaah yang dirawat di RSAS Arab Sudi. Enam jemaah dirawat di rumah sakit yang ada di Makkah, enam jemaah di rumah sakit yang ada di Jeddah, satu jemaah di rumah sakit Riyad, dan 27 jemaah dirawat di rumah sakit yang ada di Madinah,” terang Nasrullah Jasam di Jeddah, Senin (14/7/2025), dilansir dari laman resmi Kementerian Agama.

“Jemaah ini nanti akan kita pantau terus keadaannya. Jika sudah mendapatkan medif atau surat keterangan layak terbang akan dipulangkan, baik dalam posisi duduk atau berbaring dengana dibantu pendamping dari KUH Jeddah,” lanjut Nasrullah.

Nasrullah menjelaskan, jemaah yang dirawat di RS Arab Saudi ini berasal dari sejumlah embarkasi. Ada satu jemaah dari Embakasi Banjarmasin (BDJ) dan Kertajati (KJT); dua jemaah dari Embarkasi Jakarta - Pondok Gede (JKG),

Kemudian Embarkasi Lombok (LOP), dan Embarkasi Padang (PDG); tiga jemaah dari Embarkasi Makassar (UPG); empat jemaah dari Embarkasi Batam (BTH); serta lima jemaah dari Embarkasi Aceh (BTJ), Embarkasi Palembang (PLM), Jakarta – Bekasi (JKS), Embarkasi Solo (SOC), dan Embarkasi Surabaya (SUB)

“Bagi keluarga yang ingin mengetahui keadaan jemaah yang dirawat di RS Arab Saudi, kami sudah siapkan tim penghubung yang bisa dihubungi, baik di Madinah, Makkah, maupun Jedaah,” tegas Nasrullah.

"Saat ini, ada juga lima perawat Indonesia yang ada di Saudi dan kita rekruit untuk membantu memantau perkenbangan kondisi kesehatan jemaah haji," lanjutnya.

Berikut daftar nama dan nomor kontak tim penghubung KUH dan Tim Perawat sebagaimana dilansir Kementerian Agama dalam laman resminya:

1. Ahmad Hasidin (Tim KUH di Madinah): +966 50 300 6176
2. Hesti (Perawat di Madinah): 0535132495
3. Dwi (Perawat di Madinah): 0535495392
4. Misbah Baharun (Tim KUH di Makkah): +966 56 155 2687
5. Fitri (Perawat di Makkah): 0534992418
6. Meyka (Peeawat di Makkah): 0506393462
7. Azzam Mahfudz (Tim KUH di Jeddah): +62 535 161741
8. Devi Kania (Perawat di Jeddah): 0538639658.***

Menag Sebut Wacana Haji dan Umrah Via Jalur Laut Tergantung Dukungan Infrastruktur dan Regulasi
Menag Sebut Wacana Haji dan Umrah Via Jalur Laut Tergantung Dukungan Infrastruktur dan Regulasi
Haji 2026

Menag Sebut Wacana Haji dan Umrah Via Jalur Laut Tergantung Dukungan Infrastruktur dan Regulasi

Jakarta - Pemerintah belum menetapkan agenda resmi untuk penyelenggaraan ibadah haji dan umrah melalui jalur laut, namun wacana ini dapat dikembangkan bila infrastruktur dan regulasinya memungkinkan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar, merespon gagasan umrah menggunakan kapal pesiar yang disampaikan Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center, Sapta Nirwanda, dalam forum peluncuran The State of Global Islamic Economy (SGIE) Report 2024/2025 di Gedung Bappenas, 8 Juli 2025.

“Saya kira kita belum ada agenda untuk menggunakan haji laut karena perhitungan waktu, dan perhitungan biaya belum pernah kita angkat sebagai sebuah wacana khusus ya. Nggak tahu nanti kalau Badan Penyelenggara Haji punya pembicaraan khusus itu,” kata Nasaruddin Umar di Kompleks Parlemen Senayan, dilansir dari laman resmi Kementerian Agama, Kamis (10/7/2025).

“Apa yang digagas oleh Bapak Nirwanda saya kira sangat perspektif ya. Terutama tadi memperkenalkan umrah dan haji melalui kapal laut,” lanjut Menag.

Menag mengungkapkan bahwa rute menuju pelabuhan Jeddah masih dalam tahap pengembangan dan membuka peluang bagi negara-negara di kawasan Asia untuk mengakses jalur laut tersebut. Potensi ini sedang dijajaki bersama sejumlah pejabat Arab Saudi.

“Kami juga kemarin berbicara dengan sejumlah pejabat di Saudi Arabia kemungkinan untuk itu, dan itu terbuka peluang, agar bukan hanya negara-negara yang kawasan dekat Jeddah bisa mengakses seperti Mesir, tapi juga dari Indonesia, mungkin juga dari Asia Tenggara dan Asia lain,” ungkap Nasaruddin Umar.

Sebelumnya Sapta Nirwanda memaparkan bahwa perusahaan pelayaran asal Malaysia, IslamiCruise, telah merencanakan keberangkatan umrah menggunakan kapal pesiar mewah Costa Serena pada 5 Januari 2026. Rute pelayaran itu mencakup Port Klang – Banda Aceh – Maldives – Oman – dan berakhir di Jeddah, Arab Saudi.

“Ini yang saya waktu itu lapor dengan Pak Nasarudin bahwa kapal pesiar sudah menanti untuk umrah, tapi sayangnya ownership-nya di sebelah, bukan di kita. Lumayan Rp60 juta bisa belajar macam-macam selama perjalanan,” kata Sapta.

Dikatakannya, waktu tempuh umrah via kapal pesiar kini hanya 12 malam, jauh lebih singkat dibanding pelayaran haji zaman dulu.

“Kakek saya dulu dari Lampung ke Makkah empat bulan naik kapal, sekarang 12 hari, dan cruise flight, pergi cruise, pulangnya pakai pesawat,” lanjut Sapta.

Meski begitu, Menag menekankan bahwa skema tersebut belum menjadi kebijakan resmi pemerintah. Ia menyebut perlunya pembahasan lebih lanjut antar pemangku kepentingan, termasuk kesiapan badan penyelenggara haji dan dukungan regulasi dari Arab Saudi.***

Haji 2026

Showing results 1-10 of 142